Kota paling maju di benua biru itu akhirnya runtuh juga. Setelah 8 pekan dikepung, pasukan Turki Ottoman di bawah komando Muhammad Al-Fatih alias Mehmed II berhasil menaklukkan Konstantinopel. Berawal dari perang khondak saat sahabat bersama rasulullah ada seorang sahabat bertanya , mana yang akan kita taklukan romawi atau konstantinopel? rassulullah pun menjawab konstantinopel dan keluar lah hadist dari mulut rassulullah:

 لَتُفْتَحَنَّ الْقُسْطَنْطِينِيَّةُ، فَلَنِعْمَ الأَمِيرُ أَمِيرُهَا، وَلَنِعْمَ الْجَيْشُ ذَلِكَ الْجَيْشُ

“Sungguh Kostantinopel akan dibebaskan, sebaik–baik amir adalah amirnya dan sebaik–baik pasukan adalah pasukan tersebut.”

dan hadists itu terus di ingat dan di sampaikan secara turun temurun dari bapak ke anak selama 825 tahun penantian sejak di ucapkannya hadits tersebut ada seorang sultan muda bernama sultan murad II atau yang lebih di kenal dengan nama muhammad al-fatih seoranag anak yang dari kecil sudah di didik dengan didikan islam dan di didik langsung oleh syaikh ahmad al qurani dan di tanam kan jiwa kepemimpinan lalu di yakinkan oleh syaikh nya kalau dia dalah orang yang di maksud dalam hadits rassulullah, dan di umur ke 21 diadatang untuk menagih janji dan hadits rassulullah, dengan membawa pasukan yang luar biasa banyak , dan di didik di barak oleh syaikh dan di gembleng tentangkemuliaan jihad yang di dalam hati pasukan tersebut hanya ingin meraih syurga dengan syahid, dan saat waktu penyerangan tiba mereka bertempur seperti harimau tanpa kenal menyerah dan pada akhirnya tembok konstantinopel runtuh dan tunai lah janji rasulullah bahwa konstantinopel pasti akan takluk,

Namun, Jatuhnya Konstantinopel menandai akhir Perang Salib yang panjang, sejak 1096. Tak sampai setengah abad setelah Konstantinopel diambil alih Turki Ottoman, Perang Salib pun benar-benar usai. Konstantinopel memang istimewa, letaknya sangat strategis, menghubungkan Eropa dan Asia lewat darat. Romawi—yang identik dengan Eropa/Kristen—menguasai Konstantinopel selama lebih dari 14 abad dan selalu berhasil menghalau musuh-musuhnya. Percobaan tersebut akhirnya dituntaskan dengan gemilang oleh Turki Ottoman pada 1453. Dimulai memperkenalkan nama Istanbul sebagai pengganti Konstantinopel yang memang lekat dengan nama Kaisar Romawi pendirinya, Konstantinus, dan menyusul banyak perombakan lainnya. Setidaknya itulah yang diungkapkan Necdet Sakaoglu dalam The Names of Istanbul (1993). Nama Istanbul sendiri sebenarnya lebih populer sejak Republik Turki dideklarasikan pada 29 Oktober 1923. Sejak menaklukkan Kekaisaran Romawi Timur, Sultan Mehmed II langsung menetapkan Istanbul atau bekas Konstantinopel itu sebagai ibukota Kesultanan Utsmaniyah yang dipimpinnya. Perombakan total secara lebih nyata pun semakin digencarkan Turki Ottoman di bawah rezim sultan berjuluk sang penakluk itu. Semula, seturut penjelasan Encyclopedia Britannica, bangunan monumental itu adalah gereja yang lantas berkembang menjadi katedral megah sebagai pusat agama Nasrani. Oleh Sultan Mehmed II, Hagia Sophia diubah menjadi masjid kekaisaran kendati keberadaan Gereja Kristen Ortodoks tetap diakui. Sultan Mehmed II tampaknya memang ingin selekas mungkin mengubah paradigma dari Konstantinopel yang berciri Romawi/Kristen dengan Istanbul bernuansa Turki/Islam yang sangat kental. Kesultanan Usmani mendanai yayasan-yayasan keagamaan untuk membangun masjid-masjid dan bangunan lainnya dengan ornamen Islami, termasuk sekolah, rumah sakit, bahkan pemandian umum. Upaya mengubah wajah Konstantinopel itu terus berlangsung hingga ke generasi-generasi Turki berikutnya. Ketika kaum muslim Turki Ottoman bersuka-cita atas kemenangan mereka, Eropa memang di ambang keterpurukan. Kejayaan imperium Romawi yang juga menjadi era keemasan gereja di Abad Pertengahan terancam benar-benar berakhir. Direbutnya Konstantinopel oleh trah Usmani menjadi kerugian besar. Mereka semula memiliki pelabuhan besar di Tanduk Emas (dikenal juga dengan nama Golden Horn, Halic, atau Chrysoceras) yang terletak di muara pemisah Konstantinopel sekaligus sebagai penghubung Laut Hitam dan Laut Tengah. Sejak Konstantinopel lepas dan perdagangan dimonopoli Kesultanan Usmani, bangsa-bangsa Eropa berusaha keras mencari cara lain untuk tetap bisa berdagang ke Asia. Kembali menyusuri jalur darat melewati Konstantinopel alias Istanbul jelas tidak mungkin karena terlalu besar risikonya. Jatuhnya Konstantinopel menjadi titik perubahan penting peradaban manusia dengan dampak yang lebih mengglobal. Dari keterpurukan inilah bangsa-bangsa Eropa justru menemukan jalan menuju kemasyhuran yang jauh lebih besar, mereka menyongsong Abad Penjelajahan. Penjelajahan samudra menjadi solusi bagi bangsa-bangsa Eropa untuk mencapai Asia, bahkan mendapati tempat-tempat baru yang potensial, termasuk pusat rempah-rempah, terutama India bahkan berlayar hingga ke Nusantara. Benua Amerika hingga Australia ditemukan, banyak wilayah di berbagai belahan bumi yang berhasil dikuasai. Di sisi lain, Kesultanan Usmani justru menuai keruntuhan dan akhirnya bubar pada 1924.