Surah Al-Kahf (bahasa Arab:الكهف, al-Kahf, "Gua") disebut juga Ashabul Kahf adalah surah ke-18 dalam Al-Qur'an. Surah ini terdiri atas 110 ayat, termasuk golongan surah-surah Makkiyah. Dinamai Al-Kahf dan Ashabul Kahf yang artinya Penghuni-Penghuni Gua. Kedua nama ini diambil dari cerita yang terdapat dalam surah ini pada ayat 9 sampai dengan 26, tentang beberapa orang pemuda yang "tidur" dalam gua bertahun-tahun lamanya. Selain cerita tersebut, terdapat pula beberapa cerita dalam surat ini, yang kesemuanya mengandung pelajaran-pelajaran yang berguna untuk kehidupan manusia. Terdapat beberapa hadits Rasulullah SAW yang menyatakan keutamaan membaca surah ini.
*Tema Utama Surah Al-Kahf*
Surah Al-Kahf menjelaskan tiga kisah penting dan baru yang berbeda dengan kebanyakan kisah-kisah Al-Quran lainnya dimana pada surah-surah lainnya penggalan-penggalan kisah disebutkan dan diungkap secara berulang, namun kisah-kisah surah Al-Kahf disebutkan pada satu tempat dan hanya dikhususnya pada surah ini. Kisah-kisah tersebut adalah:
Kisah Ashabul Kahfi
Kisah Nabi Musa as dan "Nabi Khidir"
Kisah Dzulqarnain, Ya'juj dan Ma'juj.
Di samping tiga kisah di atas, surah Al-Kahf ini juga menyinggung tentang kisah dua taman yang menengarai kisah Nabi Adam as dan Iblis. Kisah-kisah inilah yang menjadi tema utama pembahasan surah Al-Kahf ini. Tema dan kandungan lain dari surah ini adalah penjelasan dan uraian tentang mabda (awal penciptaan) dan ma'ad (akhir penciptaan), masalah tauhid, pewahyuan (nuzul) Al-Quran untuk memperbaiki masyarakat, ilustrasi tentang hakikat dunia, fana dan tidak bernilainya dunia, pertemanan dengan orang-orang saleh dan takwa, orang-orang susah dan mustadha'fin yang beriman.
*Ikhtisar Surah Al-Kahfi*
Kedua pertanyaan yang wajar dan sangat tepat itu telah dijawab Surah ini, dan telah diberi sedikit penjelasan mengenai perubahan nasib yang harus dilalui oleh gama Kristen, yang merupakan angkatan kedua penganut agama yang dibawa oleh Nabi Musa as. Telah diuraikan pula bagaimana umat Islam akan bertingkah laku dan menjadikan diri sendiri sasaran kemurkaan Ilahi dengan meniru cara-cara buruk orang-orang Yahudi.
Telah diberikan jawaban pula kepada pertanyaan lain lagi ; apakah sebenarnya hubungan di antara hal-hal ini dengan kisah penghuni-penghuni gua dan Dzulqarnain, Yajuj-Majuj dan tamsil “dua kebun” dan isra’ (perjalanan ruhani) Nabi Musa as.? Jawaban yang Surah ini berikan kepada pertanyaan itu ialah, tamsil-tamsil itu melukiskan dengan bahasa kiasan, keadaan bangkit dan jatuhnya bangsa-bangsa Kristen, dan juga mengenai kesulitan-kesulitan dan percobaan-percobaan yang akan diderita oleh umat Islam di tangan umat Kristen, oleh karena keburukan-keburukan umat Islam sendiri.
Dengan tujuan memperluas jangkauan masalah ini, dan membuatnya lebih jelas lagi, isra’ Nabi Musa a.s. telah disebut sesudah dikemukakkannya tamsil “dua kebun“ itu.
Perjalanan ruhani Nabi Musa as. itu melukiskan dengan bahasa kiasan kemajuan besar dalam bidang kebendaan dan dalam bidang akhlak yang akan dicapai oleh para pengikutnya, persis seperti kemajuan yang dicapai secara amat menakjubkan sekali oleh para pengikut Rasulullah saw. yang telah dilukiskan dalam isra’ beliau sendiri, seperti telah tersebut dalam Surah Bani Israil.
Isra’ Nabi Musa a.s. melukiskan secara terperinci, bila dan bagaimana kemajuan yang besar ini akan mulai, dan di mana akan berhenti dan bilamana Bani Israil akan menjadi mahrum (terluput) dari nikmat-nikmat Ilahi yang nanti akan dipindahkan kepada keturunan Nabi Ismail as.. Sesudah itu kepada kita diberitahukan, bahwa Bani Ismail, setelah menerima karunia-karunia Tuhan pada giliran mereka, akan menerima kemurkaan Ilahi karena menolak perintah-perintah-Nya, dan akan dihukum oleh Yajuj-Majuj, yang pada suatu masa akan tersebar dan berkuasa di seluruh dunia.
Menjelang akhir Surah, disebut suatu wujud Dzulqarnain – yang menjadi penghalang bagi Yajuj-Majuj untuk menguasai seluruh dunia. Dengan demikian keadaan jasmani dan ruhani umat Kristen, baik pada waktu masih dalam tingkat permulaan maupun akhir zaman, telah disoroti. *Penghuni-penghuni gua itu melambangkan orang-orang Kristen pertama dalam masa kelemahannya, sedan Yajuj-Majuj menggambarkan keadaan mereka pada puncak kejayaannya di akhir zaman.*
Surah ini berakhir dengan mengemukakan, jaminan bagi para pengikut Islam, bahwa *Tuhan akan mematahkan kekuatan-kekuatan yang tidak berjiwakan agama, yang dilepaskan oleh Yajuj-Majuj ; dan Dia akan membawa keselamatan bagi umat Islam dengan perantaraan Dzulqarnain kedua, ialah pendiri pergerakan Ahmadiyah, yang adalah pengikut Rasulullah saw.*
Oleh karena Surah ini sangat penting, maka pada tempatnyalah untuk mengemukakan beberapa perincian tambahan mengenai pokok pembahasannya. Surah ini menyatakan, bahwa Tuhan telah mewahyukan Alquran untuk menghilangkan kesalahan-kesalahan yang telah menyelinap dalam kitab-kitab suci yang terdahulu.
Surah ini memperingatkan mereka yang menisbahkan seorang anak kepada Tuhan, bahwa dengan berbuat demikian mereka mengundang kemukaan Tuhan. Orang-orang ini membenci Islam, tetapi keadaan permulaan mereka tidak sama dengan kesudahannya. Mula-mula keadaan mereka sangat lemah dan mereka menjadi sasaran penindasan yang sangat keras. Tuhan menurunkan rahmat-Nya kepada mereka dan melepaskan mereka dari percobaan-percobaan dan penderitaan-penderitaan mereka serta membuka bagi mereka jalan kemajuan dan kesejahteraan. Tetapi tatkala mereka berkembang menjadi kaya dan sejahtera, mereka beralih kembali kepada kebiasaan-kebiasaan syirik, dan daripada menghadap kepada Tuhan, mereka berpaling kepada dunia, dan mereka sama sekali lenyap dalam urusan itu.
*Umat Islam diperingatkan untuk mengambil pelajaran dari nasib mereka dan di masa kejayaannya harus tetap waspada, teristimewa menjaga diri dari menjadi lalai dalam ibadah kepada Tuhan, dari mabuk dalam kecintaan yang berlebih-lebihan akan kekayaan dan barang-barang duniawi, dan dari kehidupan yang senang dan mewah.*
Kemudian, kejayaan bangsa-bangsa Kristen, sebagai bandingan terhadap kemunduran dan kemiskinan umat Islam, telah dilukiskan secara jelas dengan “tamsil dua orang,” yang seorang kaya dan yang seorang lagi miskin. Si kaya, bangsa-bangsa yang beragama Kristen, akan menyombongkan diri atas kekayaannya ; sedang si miskin akan menyandarkan diri kepada Tuhan.
Keangkuhan dan kesombongan akhirnya akan mendatangkan kerugian, dan keadaan-keadaan di luar kekuasaan manusia akan mendatangkan kemunduran dan kegagalan bagi si kaya.
Surah ini selanjutnya mengemukakan sedikit perincian mengenai perubahan-perubahan besar yang telah diwahyukan kepada Nabi Musa as. dalam kasyaf beliau, yang di dalamnya beliau diberitahu, bahwa perkembangan dan kemajuan agama beliau tidak akan dapat menandingi puncak-puncak keagungan yang akan dicapai oleh suatu agama lain yang akan muncul di kemudian hari. Agama yang akan menyusul itu, ialah Islam, akan menyempurnakan dan melengkapkan ajaran yang ditinggalkan oleh agama Musa as. dalam keadaan tidak sempurna, serta akan muncul dari reruntuhan agama Kristen yang ketika itu sedang menurun dan mundur.
Sesudah membahas mundur dan jatuhnya bangsa-bangsa Kristen serta kebangkitan Islam, Surah ini menguraikan keadaan-keadaan yang akan terbit sesudah datangnya kejayaan Islam. *Telah dikemukakan, bahwa suatu masa akan datang bila umat Islam akan membelakangi agama mereka, dan akan memusatkan segala perhatian mereka untuk mengejar kekayaan dan kekuasaan duniawi. Untuk menghukum mereka atas dosa-dosa mereka itu. Tuhan sekali lagi akan memberikan kejayaan dan kesejahteraan kepada bangsa –bangsa dari umat Kristen, yang untuk suatu masa tertentu telah terhalang maju ke daerah–daerah sebelah selatan dan timur.*
Kemudian kebinasaan besar akan menimpa dunia, dan bangsa-bangsa dunia akan terbagi dalam dua blok saling bermusuhan, yang memeluk dua paham berlawanan.
Dosa dan keburukan akan tersebar luas di dunia serta ketidak-adilan dan kezaliman akan merajalela. Apabila hal itu telah mencapai tingkatan demikian, Tuhan akan mencipta kan keadaan-keadaan yang akhirnya akan mencegah dan menghentikan serangan gelombang banjir yang nampaknya tidak tertahan itu dan mengancam akan menggenangi serta menelan seluruh dunia.
Sementara membahas masalah itu Surah ini dengan jelas mengisyaratkan bahwa kaum yang dahulu pernah mematahkan kekuasaan politik Yajuj-Majuj, kaum itu pula kan memainkan peranan penting dalam mencegah dan menghentikan gelombang pasang air bah itu – yakni para pengikut sejati Rasulullah saw.
*MENYINGKAP MISTERI ASHABUL KAHFI*
Para penghuni gua itu bukanlah wujud-wujud aneh atau misterius. Tidak ada sifat mereka yang dapat dianggap menyimpang dari hukum alam biasa.
_Tetapi sungguh amat aneh, bahwa banyak dongengan-dongengan khayali telah terjalin sekitar mereka. Kisah yang tersohor tentang “Seven Sleepers” (Tujuh penidur) seperti diuraikan oleh Gibbon dalam karyanya “Decline and fall of the Roman Empire” (Kemunduran dan jatuhnya kerajaan Romawi), memberi suatu kunci penting, untuk menyingkapkan kabut rahasia yang menyelubungi para penghuni gua itu. “Ketika Maharaja Decius”, kata Gibbon, “mengejar-ngejar dan menindas orang-orang Kristen, tujuh pemuda bangsawan dari Ephesus menyembunyikan diri dalam sebuah gua yang luas di pinggir sebuah gunung, di mana mereka dibiarkan menjadi musnah oleh raja zalim itu, dan memberi perintah untuk menutup pintu masuk gua itu rapat-rapat dengan tumpukan batu-batu besar._
*Sekarang, ini merupakan kenyataan sejarah yang cukup dikenal, bahwa orang-orang Kristen pertama mengalami penindasan yang tak terkatakan dari maharaja-maharaja Roma musyrik, karena keimanan mereka kepada tauhid Ilahi. Aniaya penindasan itu mulai semenjak zaman Maharaja Nero yang tersohor buruknya, yang konon kabarnya membakar kota Roma ; ia sedang maun biola ketika pusat agung ilmu pengetahuan dan peradaban itu sedang terbakar. Penindasan itu berlangsung terus-menerus dengan diselingi oleh masa-masa aman ; dan sesudah tenggang waktu singkat kira-kira empat puluh tahun, penindasan itu mulai dengan kedahsyatan baru di bawah Maharaja Decius, yang berkeinginan menghidupkan kembali agama dan lembaga-lembaga Romawi kuno ; dan untuk mencapai tujuan inilah ia mulai mem basmi orang-orang Kristen dengan rencana teratur. Tetapi undang-undang Diokletianus pada tahun 303 M. Melampui semua tindakan-tindakan anti-Kristen. Dengan undang-undang ini, semua geraja Kristen di semua propinsi negara dimusnakan ; semua kitab suci mereka dibakar di muka umum, serta hak milik gereja disita dan orang-orang Kristen sendiri dinyatakan ada di luar perlindungan negara” (Gibbon’s Roman Empire. Enc. Brit. & Story of Rome). Untuk menyelamatkan diri dari penindasan kejam dan di luar perikemanusiaan para korban yang tidak berdaya itu mencari perlindungan dengan bersembunyi dalam katakomba –katakomba (rongga-rongga di bawah tanah tempat menyimpan mayat-mayat) di Roma. Untuk memenuhi tujuan tersebut katakomba-katakomba itu sangat cocok, pertama karena sangat berliku-likunya jalan ke ruangan-ruangan gua yang sangat menyesatkan itu ; dan kedua, karena tidak terhitung banyaknya bilik-bilik kecil dan persembunyian-persembunyian pada tingkat-tingkat berlainan, yang boleh jadi tetap tidak dapat ditemukan dalam kegelapan oleh para pengejar. Nampak dari tulisan-tulisan pada batu-batu nisan kuburan di katakomba-katakomba tersebut, bahwa orang-orang Kristen di zaman permulaan, berpegang pada tauhid dengan kuat. Nabi Isa as. disebut dalam tulisan-tulisan itu hanya sebagai gembala atau nabi Allah ; sedangkan ibunda beliau, Siti Maryam, tidak lebih dari seorang wanita yang shaleh. Nampak pula, bahwa orang Kristen yang mencari perlindungan di katakomba-katakomba tersebut suka menempatkan anjing di pintu-pintu masuk mereka, dengan menyalak-nyalak akan memberitahukan kedatangan orang-orang asing. _Dengan demikian, kisah para penghuni gua itu pada hakikatnya melukiskan sejarah orang-orang Kristen di zaman permulaan, dan menunjukkan betapa mereka menderita penindasan- penindasan tak terkatakan, demi keimanan mereka kepada tauhid Ilahi._ Keterangan itu dapat dikenakan, dengan lebih lengkap dan dengan lebih terperinci serta lebih tepat, kepada katakomba-katakomba di Roma dari tempat lain mana pun.*
*Kisah “para penghuni gua: dapat pula dianggap bertalian dengan Yusuf Arimatea dan kawan-kawannya. Menurut William dari Malmesbury, Yusuf itu dikirim ke Britania oleh Santa Filip dan setelah diberi satu pulau kecil di Somersethire, dengan mempergunakan ranting-ranting, ia mendirikan gereja Kristen yang pertama di Britania, yang kemudian menjadi Abbey of Glastonburry. Menurut riwayat lain, konon kabarnya Yusuf itu mengembara di Britania pada tahun 63 M .. Menurut dongengan-dongengan, gereja Glastonbury yang pertama itu merupakan bangunan yang dibuat dengan ranting-ranting yang dianyam, didirikan oleh Yusuf Arimatea, ialah kepala dua belas rasul yang diutus ke Britania dari Gaul oleh Santa Filip (Enc. Brit. Edisi ke 10 & Edisi ke 13, pada kata “Yoseph of Arimathea” & pada kata “Glastonbury”).*
*Teory terbaru yang mendapat dukungan kuat dari penyelidikan terhadap “Dead Sea scrolls” (Gulungan-gulungan tulisan yang terdapat di dekat Laut Mati), menunjukkan gua-gua itu – tempat orang-orang Kristen pertama mencari perlindungan dan mereka menuliskan kepercayaan-kepercayaan serta ajaran-ajaran mereka – di sebuah lembah dekat Laut Mati.*
*“Gua” dan “prasasti” (KAHF & RAQIM) merupakan dua segi yang sangat penting dalam kepercayaan Kristen, yang berarti, bahwa agama Kristen itu mulai sebagai agama yang melepaskan dan menarik diri dari keramaian dunia, dan berakhir dengan menjadi suatu agama yang memusatkan perhatian kepada urusan dunia; suatu agama perdagangan dan perniadaan dalam dunia tulis menulis dan prasasti-prasasti (tulisan pada dinding dan benda-benda).*
*BERAPA JUMLAH MEREKA DAN BERAPA LAMA MEREKA "TIDUR" DI DALAM GUA?*
Dugaan mengenai jumlah mereka yang tak pasti ini nampaknya berdasar pada prasasti-prasasti yang tertera di atas dinding-dinding beberapa kamar di katakomba-katakomba, tetapi tiap tulisan itu menunjuk hanya kepada suatu keluarga, golongan, atau rombongan yang tertentu. *Jumlah banyaknya orang-orang yang mencari perlindungan dalam katakomba-katakomba itu pada suatu waktu tertentu tidak diketahui.* Dari prasasti-prasasti itu nampak, bahwa selamanya ada anjing menyertai suatu rombongan pengungsi itu.
*Dan mereka tinggal (bukan tidur) dalam gua mereka tiga ratus tahun, dan mereka tambah sembilan.*
Ini adalah jangka waktu selama orang-orang Kristen, dari masa permulaan *menjadi kurban penindasan yang sering terpaksa mencari perlindungan dalam gua-gua dan tempat-tempat persembunyian lainnya, meliputi masa kurang lebih 309 tahun* ; dan catatan-catatan sejarah membenarkan prakiraan itu. Seperti umum percaya, penindasan terhadap orang-orang Kristen mulai dengan peristiwa disalibnya Isa as. pada tahun 28 M, dan berakhir dengan masuknya Kaisar Konstantin ke dalam agama Kristen pada tahun 337 M., tetapi pada tahun 309 M. Peristiwa penyaliban Isa as. yang mengerikan itu telah terjadi 28 tahun kemudian dari apa yang pada umumnya dipercayai. (Chronology by Archbishop Ushers & Daily Bible Illustration by Dr. Kitto).
Dibutkan lagi masa sulit Ashabul Kahfi permulaan, yaitu ketika mereka menderita
penganiayaan yang memaksa mereka pergi bersembunyi ke dalam gua. Allah berfirman, masa
persembunyian itu 309 tahun lamanya. Zaman gelap ini dimulai sejak
penyaliban Isa Al Masih as. dan berakhir ketika kaisar Konstantin (pembangun kota Istambul) masuk ke
dalam agama Masehi pada tahun 337 M. (Encyclopaedia Britanica)
Sepintas tampak tahun ini berbeda dengan tahun yang disebutkan dalam Al-Qur’an. Tetapi bila kita selidiki
sejarah kaum Masehi, terungkap bahwa tahun yang mereka sebutkan itu salah; kaisar Roma Konstantin
sebenarnya masuk Kristen pada tahun 309 M. Dalilnya ialah, para sejarawan Kristen sendiri mengakui telah
terjadi kesalahan dalam penanggalan Masehi. Uskup Agung Ushers dalam bukunya ‘Chronology’ menerangkan bahwa tahun yang dinyatakan dalam almanak Masehi sebagai waktu penyaliban adalah
salah. Kekeliruan ini terjadi pada tahun 527 M.
Sebenarnya Al Masih dilahirkan 4 atau 6 tahun sebelum
tahun ini; jadi waktu itu umur beliau baru 4 atau 6 tahun. Beliau disalib pada umur 33 tahun. Sekarang
menurut keterangan ini, jika diambil angka tengah antara 4 dan 6 jadi 5, dan dikurangkan dari umur saat disalibnya, jadi tinggal 28. Tahun 337 dikurangi 28 adalah 309. Jadi benarlah tahun yang disebutkan oleh AlQur’an.
Ini dengan anggapan bahwa riwayat-riwayat dari buku-buku Masehi adalah benar.
Ini menyiratkan nasehat Allah agar kaum Muslim tidak gelisah atau cemas oleh panjangnya masa penderitaan. Sebelum kita jemaat Masehi dianiaya 309 tahun lamanya, tetapi mereka tetap sabar.
Akhirnya mereka bisa mengenyam kelezatan buah kesabaran itu. Karena itu janganlah kamu tergesa-gesa;
hadapilah segala kesukaran dengan tenang dan hati teguh.
Kemudian digambarkan keadaan kaum Kristen sesudah mereka tersebar ke seluruh pelosok dunia.
Digambarkan kemajuan suku-suku bangsa Utara yang sudah jadi Masehi di masa yang akan datang. Menggunakan fi’il madli (kata kerja bermasa lampau—past tense) untuk pemberitaan kejadian di masa depan adalah kebiasaan Al-Qur’an untuk mengisyaratkan bahwa perkabaran itu pasti akan terjadi. Dalam hal ini dijelaskan bahwa Allah kelak pasti akan membangunkan suku-suku bangsa yang sekarang sedang tidur ini, kemudian mereka nanti akan saling bertanya berapa lama mereka sudah tidur. Maksudnya, sekarang sudah saatnya kita bangkit.
Terbukti ketika Perang Salib mulai timbul kesadaran pada suku-suku bangsa Barat itu; mereka serentak bangkit menyusun laskar-laskar dan bersatu menyerang kerajaan Islam.
Ayat labitsna yauman aw ba’dla yaumin (kami tinggal sehari atau setengah hari) bukan berarti mereka ragu-ragu entah tidur sehari atau setengah hari, melainkan menurut percakapan Arab sehari-hari berarti suatu masa yang sangat panjang dan tidak tentu. Percakapan dalam ayat ini menunjukkan bahwa kaum Masehi tidur selama jangka waktu yang amat panjang. Dalam sebuah surah lain Al-Qur’an menyebutkan masa tidur mereka itu 1.000 tahun.
Dalam surah Thaha ayat 103 dan 104 tercantum “yauma yunfakhu fi shshuri wa nahsyurul mujrimiina yaumaidzin zurqan, yatakhaafatuuna bainahum in labitstum illa ‘asyraa”. Artinya, pada hari sangkakala akan ditiup Kami kumpulkan para pesakitan yang berdosa, yang bermata biru itu. Mereka akan berbisik kepada sesamanya, kamu hanya tinggal (di bumi) sepuluh (abad). Zurqan berarti orang bermata biru. Mata orang Eropa berwarna biru. Arab menyebut orang Roma azraq, yang berarti si mata biru.
Jadi, kaum Masehi berada dalam keadaan lengah atau tidur selama jangka waktu 1.000 tahun. Sekarang kita hitung, Rasulullah saw. dilahirkan pada tahun 570 M (menurut perhitungan Sir William Muir); beliau mendakwakan diri sebagai rasul 40 tahun kemudian, yaitu pada tahun 611 M. Jika kita tambahkan 611 dan 1000 kita peroleh 1611. Kita ketahui dari sejarah dunia bahwa pada tahun 1611 M bangsa Inggris memulai pengaruhnya di Hindustan; ketika itu pemerintahan Moghul memberi izin kepada saudagar-saudagar Inggris untuk berniaga di teluk Benggala. Kemudian pada tahun 1612 mereka diizinkan membuka perusahaannya di Surat; Surat adalah sebuah kota pelabuhan yang sangat makmur dalam Abad Pertengahan, terletak sekitar 500 km di sebelah Utara kota Bombay atau Mumbay saat ini. Dunia mengakui bahwa inilah tonggak sejarah penting bagi kemajuan politik-ekonomi Eropa dan bagi penyebaran pengaruh mereka ke seluruh dunia.
Suku-suku bangsa di Eropa mengikuti jejak bangsa Inggris; dengan dukungan moril dari Inggris mereka juga memperoleh kemajuan. Kunci kemajuan bangsa Inggris adalah penjejakannya di Hindustan; sesudah mereka dapat berpijak di Hindustan barulah mereka dapat juga menguasai daerah-daerah lain di Asia. Dengan berkuasanya Inggris suku-suku bangsa Eropa yang lain juga ikut melebarkan sayapnya.
Mungkin anda bertanya-tanya, kalau sebelumnya disebutkan tentang bangsa Roma, mengapa sekarang disebutkan tentang bangsa Inggris? Jawabnya adalah, peradaban Eropa modern adalah buah dari peradaban kuno Roma. Seluruh benua Eropa adalah murid dari Roma dan peninggalan dari peradabannya. Agama Masehi pun tersebar ke seluruh Eropa dengan perantaraan Roma.
Sebab utama bangsa-bangsa Eropa melakukan ekspedisi laut ke negeri-negeri Asia adalah karena pasokan gandum di dalam negeri mereka tidak pernah mencukupi kebutuhan. Mereka selamanya mendatangkan gandum dan rempah-rempah dari Asia, yang sebelumnya biasa mereka beli dari saudagar-saudagar Arab. Ketika mereka telah menemukan jalan ke Hindustan, mereka mulai mengadakan perniagaan langsung dengan negeri-negeri yang menghasilkan bahan-bahan mentah itu. Di sini seakan-akan mereka memberi instruksi kepada pembeli gandum itu untuk memilih yang terbaik (yang tahan lama) karena gandum itu akan disimpan untuk persediaan.
Selama penanaman gandum belum dilakukan oleh bangsa Amerika pendatang, selama sekitar 200 tahun Hindustan merupakan pemasok gandum untuk makanan Eropa.
Sekelompok orang di antara mereks disuruh untuk membeli bahan-bahan makanan yang dibutuhkan itu. Ini menunjukkan kesatuan atau organisasi mereka, yaitu kepergian orang-orang yang disuruh itu di bawah sebuah organisasi dengan satu orang di antara mereka menjadi penanggungjawab organisasi.
Kepada para pejabat mereka yang dikirim ke luar ada perintah yang khas yaitu, mereka harus berlaku sopan, bermuka manis dan berbicara lembut. Begitu juga sifat para saudagar mereka. Sikap lemah lembut ini bertujuan agar kaum-kaum yang mereka datangi menerima kedatangan mereka dengan baik.
Wala yusy’iranna bikum ahada (hendaknya tidak seorang pun tahu keadaan kamu) berarti jangan ada yang curiga terhadap gerak-gerikmu, dan sekali-kali jangan terungkap bahwa bangsamu berniat untuk menguasai daerah mereka; berlakulah sangat waspada agar tidak muncul kecurigaan pada mereka tentang maksud sebenarnya kedatanganmu.
Pengirim misi dagang itu bukanlah seorang raja, melainkan sebuah perusahaan. Terbukti perutusan Inggris ke Hindustan—juga perutusan Belanda ke Indonesia—adalah atas nama *Kompeni* (perusahaan). Jadi, pengirim misi dagang adalah perusahaan, dan yang dikirim adalah para pegawai perusahaan dan satuan pengamanannya.
*Allah menceritakan kisah Ashabul Kahfi ini bukan sebagai dongeng, melainkan kisah penderitaan semacam ini juga nanti akan dialami oleh umat Rasulullah saw.* Jadi, sebagian menjelaskan peristiwa-peristiwa lampau, sebagian lagi mengandung kabar-kabar gaib tentang orang-orang yang akan menggantikan kedudukan Ashabul Kahfi yang dulu dan tentang keturunan mereka yang akan datang.
Dalil lain yang menegaskan bahwa ayat-ayat mengandung kabar-kabar gaib adalah bahwa, hikmah menceritakan kisah ini adalah bahwa kejadian-kejadian semacam ini kelak akan dialami juga oleh sebagian dari umat Islam. Yakni, mereka pun akan dianiaya semata-mata karena iman kepada sabda Allah.
*Ada suatu riwayat dari Ibnu Abbas ra., Rasulullah saw. bersabda: “Ashabul Kahfi a’wanul Mahdi.” Artinya, Ashabul Kahfi itu murid-murid dan pembantu-pembantu Mahdi yang iman kepada beliau. Ini bukan berarti bahwa tidak ada ashabul kahfi sebelum zaman Rasulullah saw., melainkan maksudnya bahwa penderitaan atau kesukaran-kesukaran yang dahulu dialami oleh Ashabul Kahfi akan dialami juga oleh para pengikut Mahdi; mereka pun akan dianiaya hanya karena iman mereka terhadap sabda-sabda Allah.* []
_
0 Comments
Post a Comment