Esai ini merupakan lanjutan dari esai sebelumnya yang mengulas poin-poin yang saya sampaikan pada mukadimah kelas logika di Kafe Mainmain. Kandungan ilmu mantiq yang berkembang dalam keilmuan klasik Islam sesungguhnya berisi mirip belaka dengan kandungan logika formal Aristotelian. Karya Aristoteles dalam bidang logika ialah Organon, yang berisi enam bagian pembahasan yang, walau tidak memakai urutan yang sama, berisi mirip dengan kandungan mantiq yang dipelajari dan disyarahi para filsuf Muslim. Enam kandungan Organon ini dikumpulkan oleh para pengikut Aristoteles, yang disebut sebagai kaum Peripatetik.


Kata ‘peripatetik’ ini berasal dari kata Yunani ‘peripatetikos’, yang berarti «jalan-jalan». Nantinya, filsuf Muslim Aristotelian yang lebih teguh di Andalusia, yakni Ibn Rusyd, yang juga menulis ringkasan logika Aristoteles , berupaya membersihkan ajaran Aristoteles dari unsur-unsur Platonis. Pengantar logika Aristotelian karya Porphyry tadi diberi judul Isagoge, yang artinya ‘pengantar’. Isagoge inilah yang nantinya diterjemahkan ke dalam bahasa Arab menjadi «isaghuji».

Nantinya ada beberapa karya mantiq yang ditulis para sarjana Muslim abad pertengahan dengan memakai judul isaghuji. Di antara contohnya ialah Isaghuji fil-Manthiq karya al-Abhari . Karya al-Abhari ini menjadi basis bagi al-Akhdhari untuk menulis nazam as-Sullam al-Munawraq, yang hingga kini masih banyak dikaji dan dihafalkan di cukup banyak pesantren tradisional. Pusat penerjemahan karya-karya kelimuan Yunani ke bahasa Arab pada abad pertengahan ialah Baytul Hikmah di Baghdad, yang mencapai kejayaan pada masa al-Ma’mun ibn Harun ar-Rasyid, raja dinasti Abbasiyah abad 9.

Namun, di sisi lain, al-Ma’mun ialah penguasa yang menggemari filsafat. Di antara yang terkenal ialah al-Kindi dan al-Khawarizmi . Isagoge yang disebut di muka tadi diterjemahkan oleh Ibn al-Muqaffa’, salah satu penerjemah utama di Baytul Hikmah. Salah satu sejarawan filsafat terkemuka saat ini, Peter Adamson, bahkan menyebut pengaruh Ibn Sina bagi filsafat Islam yang datang setelahnya ialah seperti pengaruh Immanuel Kant bagi filsafat modern.

Karya agung Ibn Sina, di samping al-Qanun fit-Thibb, ialah as-Syifa, yang berisi filsafat Aristoteles dengan imbuhan dari ajaran Plato dan filsafat Timur . Ibn Sina juga menulis banyak karya lain tentang logika, seperti Danesh-Name Alai , an-Najat, al-Isyarat wat-Tanbihat, dll. Ibn Sina inilah, bersama al-Farabi, yang menjadi sasaran utama kritik al-Ghazali dalam Tahafut al-Falasifah . Mi’yar al-‘Ilmi, sebagaimana dinyatakan al-Ghazali sendiri, ditulis antara lain sebagai klarifikasi bagi istilah-istilah kunci yang dipakai dalam Tahafut.

Di luar itu, al-Ghazali menerima sebagian besar kandungan filsafat yang berkembang di dunia Islam masa itu . Tidak semua ulama memiliki penerimaan yang sama terhadap mantiq. Ibn Taymiyyah juga menulis karya yang keras mengkritik para pengadopsi logika Yunani dalam karyanya ar-Radd ‘ala al-Manthiqiyyin . Meringkas dari salah satu poin yang saya sampaikan pada pertemuan kedua kelas logika, di esai berikutnya saya akan mengulas riwayat ringkas al-Ghazali dan periodesasi karya-karyanya.