Pandemi covid 19 sudah hampir 2 tahun menyerang dunia, segala cara sudah di lakukan oleh semua pihak baik pemerintah atau organisasi dalam menahan pertumbuhan virus yang semakin hari semakin ganas, semua negara berlomba- lomba membuat vaksin dan mengklaim bahwa vaksin mereka lebih baik, namun di balik kehebohan dari semua itu, di plosok negri ada anak yang harus putus sekolah karena tidak mampu membeli kuota internet, memang pandemi ini memaksa kita untuk melaksanakan pembelajaran 2.0 yaitu pembelajaran yang menggunakan virtual jakar jauh, namun masih banyak dari rakyat indonesia yang masih hidup di bawah garis kemiskinan, mereka di tengah pandemi seperti ini lebih baik mereka menggunakan uang mereka untuk membeli nasi dan lauk dari pada kuota, bahkan ada yang tidak mampu lagi membeli kuota karena ekonomi yang semakin membelit dan sulit

Ketika kita sd atau bahkan tk kita sering di tanya apa mimpi kita , ada yang mau jadi pilot, ada yang mau jadi dokter, ada yang mau jadi guru, namun semua itu hanya ucapan belaka yang menjadi penyemangat, apakah semua itu tercapai? Tergantung, jika kau dar keluaga kaya maka itu bisa jadi tercapai tapi jika tidak, itu hanya menjadi penyemangat belajar saja, kita lihat sekarang ketika cara belajar di ubang 100 persen dari tatap muka menjadi online, masih banyak anak indonesia yang tidak memiliki telepon seluler, dan harga kuota di indonesia juga termasuk mahal, jadi pendidikan mereka terhalang oleh faktor tersebut, mungkin ketika belajar masih masuk ke dalam kelas mereka belum tentu bisa membeli buku, apa lagi sekarang belum tentu bisa membeli hp,

Jadi ayo kita dukung pemerintah dalam mencegah penyebaran covid 19, agar anak- anak bisa kembali bersekolah dan meraih mimpi mereka , dengan begitu mereka akan menggapai cita-cita mereka , mereka adalah penerus generasi bangsa 20 tahun ke depan , jika mereka tidak di bekali oleh penddikan yang baik dan ilmu yang bermanfaat, mau di bawa kemana arah bangsa kita, estafet kepemimpinan akan ada di tangan mereka , covid ini akan menjadi dongen 20- 30 tahun kemudian, jangan sampai mereka mendongengkan kepada cucu-cucu mereka bahwa dulu kakek berenti sokolah karena tidak sanggup memmbeli kuota di tengah pandemi,