1. Apakah solat sunah abis wudlu ada, mhn pencerahan. Assalamualaikum akhy 🙏 ?
وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته
Ya, itu insyaa Allah pernah dikatakan oleh Rasulullah, sehingga ada salah satu sahabat yang rajin mempraktekkkan sholat sunnah setiap dia selesai wudlu yaitu Bilal bin Robbah.
Dari Usman bin Affan ra, dia berkata bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :
"Barangsiapa yang berwudlu seperti wudluku ini kemudian berdiri melakukan sholat dua roka'at dengan tidak mengucapkan pada dirinya, maka dia akan diampuni dosanya yang telah lalu.”
(HR. Al Bukhari dan Muslim)
Dari Humran mantan budak Utsman, dia berkata: Aku mendengar Utsman bin Affan sedangkan dia di halaman masjid, lalu muadzdzin mendatanginya ketika Ashar, lalu dia meminta air wudlu, lalu berwudlu, kemudian berkata:
"Demi Allah, sungguh aku akan menceritakan kepada kalian suatu hadits, kalau bukan karena suatu ayat dalam Kitabullah niscaya aku tidak akan menceritakannya kepada kalian. Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Tidaklah seorang laki-laki muslim berwudlu, lalu memperbagus wudlunya, lalu melakukan shalat, melainkan pasti Allah mengampuni dosanya antara dia dan shalat sesudahnya."
(HR. Muslim).
Dari ‘Uqbah bin ‘Amir Al-Juhaniy ra, dia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Tidaklah seseorang berwudlu dan menyempurnakan wudlunya, lalu shalat dua roka’at dengan sepenuh hati dan jiwa melainkan wajib baginya surga.”
(HR. Muslim)
Dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Bilal:
“Wahai Bilal, ceritakanlah kepadaku tentang satu amalan yang engkau lakukan di dalam Islam yang paling engkau harapkan pahalanya, karena aku mendengar suara kedua sandalmu di surga.”
Bilal menjawab:
“Tidak ada amal yang aku lakukan yang paling aku harapkan pahalanya daripada aku bersuci pada waktu malam atau siang pasti aku melakukan shalat dengan wudhu tersebut sebagaimana yang telah ditetapkan untukku.”
(Muttafaqun ‘alaih)
Wallahu a'lam.
___________________________________________________
2. Bismillah
Ustad mohon bantuanya untuk bisa menjawab!
Assalamualaikum
Sahabat muslim saya ingin bertanya....
Apakah rasulullah itu pernah marah kepada sahabatnya...??
Kalau pernah kenapa??
Dalam hal apa?
Terus dalam hal apa saja kah kita boleh marah kepada sahabat kita sendiri??
Jazakallahu khairan
وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته
Ya tentu saja. Kemarahan beliau tentu saja tidak sama dengan manusia biasa. Beliau tidak marah ketika dituduh gila atau tukang sihir. Beliau marah karena Allah. Begitupun para sahabat ada yang pernah dimarahi beliau. Yakni ketika ada PELANGGARAN SYARI'AT, adanya KERAGUAN atau LAMBAT dalam MELAKSANAKAN perintah SYARI'AT dan adanya KEBURUKAN UCAPAN atau PERILAKU seperti perkelahian yang terjadi antara sahabat Anshor dan Muhajirin YANG DISERTAI SIKAP FANATIK GOLONGAN MELUPAKAN PERSATUAN SESAMA MUSLIM.
Dari Jabir ra diriwayatkan bahwa dalam satu perkelahian, seorang Muhajirin mendorong seorang Anshar. Lalu orang Anshar itu berkata:
“Tolonglah, hai Anshar.”
Orang Muhajirin itu berkata:
“Tolonglah, hai Muhajirin.”
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pun mendengar itu dan beliau bersabda:
“Ada apa dengan seruan jahiliah itu?”
Mereka berkata:
“Ya Rasulullah, seorang dari Muhajirin memukul punggung seorang dari Anshar.”
Beliau bersabda:
“Tinggalkan itu, sebab hal itu muntinah (tercela, menjijikkan dan berbahaya).”
(HR Al Bukhari dan Muslim)
Nabi TAHU dan MAMPU mengendalikan emosi, kemudian MAU melakukan sesuatu yang beliau tahu dan mampu melaksanakannya. Itulah idealnya, tahu, mampu, dan mau.
Lain dengan kita. Kita pun sebenarnya mampu meredam dan mengendalikannya. Namun, terkadang kita TAK MAU MELAKUKANNYA.
Dengan kata lain, kita baru menggunakan perasaan dan pemahaman, tapi belum MAU MENGOPTIMALKAN HATI untuk MENENTUKAN SIKAP YANG BAIK (BELUM MAU MEMPERBAIKI DIRI) Padahal manusia belum dianggap berakal, sampai dapat MENERJEMAHKAN /MEMPRAKTEKKAN hasil pemikirannya/apa yang diketahuinya berdasarkan syari'at.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
فَاِ نْ لَّمْ يَسْتَجِيْبُوْا لَكَ فَا عْلَمْ اَنَّمَا يَـتَّبِعُوْنَ اَهْوَآءَهُمْ ۗ وَمَنْ اَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوٰٮهُ بِغَيْرِ هُدًى مِّنَ اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الظّٰلِمِيْنَ
"Maka jika mereka tidak menjawab (tantanganmu), maka ketahuilah bahwa mereka hanyalah mengikuti keinginan mereka. Dan SIAPAKAH yang LEBIH SESAT daripada ORANG yang mengikuti KEINGINANNYA TANPA mendapat PETUNJUK dari ALLAH sedikit pun? Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang dzolim."
(QS. Al-Qoshos : 50)
Dari Aisyah ra dia berkata :
“Pada hari ke-4 atau ke-5 Dzul Hijjah, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam datang menemuiku dalam keadaan marah.
Aku berkata:
"Siapa yang membuatmu marah wahai Rasulullah? Semoga Allah memasukkannya ke neraka."
Beliau menjawab:
"Apakah pendapatmu ketika aku memerintahkan orang-orang dengan suatu perintah, lalu mereka ragu (dalam melaksanakannya)."
(HR. Muslim).
Juga pernah diriwayatkan ketika itu Rasullullah shallallahu 'alaihi wa sallam sedang ada sedikit perselisihan dengan istrinya, Aisyah ra.
Beliau marah kepada Aisyah karena Aisyah terus saja memelihara rasa cemburunya kepada Khadijah ra , istri pertama Rasulullah yang sudah meninggal.
Di tengah rasa kemarahannya, Rasulullah berkata kepada Aisyah ra supaya istrinya tersebut memejamkan matanya:
”Pejamkanlah matamu."
Lalu kemudian beliau mendekat ke arah Aisyah rae berdiri. Setelah tubuh beliau berdua berdekatan, beliau memeluk istrinya tersebut seraya berucap:
"Ya Khumairaku, rasa marah telah pergi setelah aku memelukmu.”
(HR. Muslim)
Dari Jundab bin Abdullah Al-Bajali ra, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bertanya kepada Usamah:
“Kenapa engkau membunuhnya?”
Usamah menjawab:
“Wahai Rasulullah, dia telah menimbulkan luka-luka terhadap kaum muslimin, bahkan dia telah menewaskan fulan dan fulan.”
Usamah menyebutkan sejumlah sahabat yang gugur di tangan orang itu.
Usamah lalu berkata:
“Saya menyerang orang itu, namun saat dia melihat pedang saya, dia mengucapkan Laa ilaahaa illallaah.”
Beliau bertanya lagi:
"Apakah engkau telah membunuhnya?”
Usamah menjawab: “Ya.”
Beliau bertanya lagi:
“Lalu bagaimana engkau akan menghadapi kalimat Laa Ilaaha illallaah, jika datang kelak pada hari kiamat?”
Usamah berkata:
“Wahai Rasulullah, mintakanlah ampunan Allah untuk diri saya.”
Namun beliau kembali bertanya:
“Lalu bagaimana engkau akan menghadapi kalimat Laa Ilaaha illallaah, jika datang kelak pada hari kiamat?”
Usamah berkata:
“Beliau tidak melebihkan jawaban beliau selain senantiasa mengulang-ulang pertanyaan, Lalu bagaimana engkau akan menghadapi kalimat Laa Ilaaha illallaah, jika datang kelak pada hari kiamat?”
(HR. Muslim)
Diceritakan dari Usamah bin Zaid ra (sepulang dari peperangan) bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bertanya kepada Usamah bin Zaid:
“Apakah dia sudah mengucapkan Laa Ilaaha illallaah namun engkau tetap saja membunuhnya?”
Maka Usamah bin Zaid menjawab:
“Wahai Rasulullah, dia mengucapkannya karena takut kepada senjata kami.”
Namun beliau bersabda:
“Kenapa engkau tidak membelah dadanya, sehingga engkau mengetahui apakah hatinya mengucapkan Laa Ilaaha Illallaah karena ikhlas ataukah karena alasan lainnya?”
Usamah berkata:
“Beliau terus-menerus mengulang pertanyaan itu kepada saya sehingga saya berharap andai saja saya baru masuk Islam pada hari itu.”
(HR. Muslim)
Begitupun dalam riwayat Al Bukhari diceritakan hal sama yang menandakan KEMARAHAN RASULULLAH shallallahu 'alaihi wa sallam kepada sahabat beliau yang gegabah tetap membunuh musuh yang sudah bersyahadat ketika mau dibunuh (hanya karena dugaan bahwa syahadat musuhnya itu palsu).
Dalam Fathul Baari, dijelaskan:
“Usamah berharap masuk Islam pada hari tersebut, sebab masuk Islam akan menghapuskan dosa-dosa sebelumnya. Dia berandai-andai hari tersebut menjadi awal keislamannya, agar dia selamat dari dosa tindakannya tersebut.”
Imam Al-Qurthubi berkata:
“Pernyataan Usamah tersebut mengesankan bahwa dia menganggap remeh amal-amal shalih yang telah dia kerjakan sebelum itu, dibandingkan besarnya dosa tindakan pembunuhan tersebut, ketika dia mendengar pengingkaran yang sangat keras tersebut.”
Imam Ibnu Bathol berkata:
“Kisah ini menjadi sebab Usamah bersumpah untuk tidak pernah membunuh seorang muslim pun setelah hari itu. Oleh karenanya Usamah tidak menyertai Ali bin Abi Thalib dalam perang Jamal dan perang Shiffin.”
Itulah beberapa contoh kemarahan Rasulullah kepada sahabat, kemarahan karena Allah (yang berdasarkan syariat) bukan karena kemarahan berdasarkan hawa nafsu.
Wallahu a'lam
Akhirnya, apabila ada yg tak sependapat dengan uraian kami, tentu sangat kami hargai sebagai dinamika kehidupan. Dan jalan yg terbaik adalah berdiam diri dari perdebatan.
سبحانك اللهم وبحمدك اشهد ان لا اله إلا انت استغفرك واتوب اليك.
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته
0 Comments
Post a Comment