Globalisasi kini telah dimulai. Terutama dalam aspek budaya, batasannya kini telah kabur. Globalization has been started. All societies, mainly family, must prepare human source who have moralintegrity. Sudah semestinya apabila pembentukan akhlak mulia harus tetapdiprioritaskan dalam tujuan penyelenggaraan pendidikan. 2lajunya zaman rasanya semakin berat tantangan dunia pendidikan ini dalamrangka menyiapkan manusia yang mempunyai akhlak mulia. Diketahui, bahwa pada era globalisasi ini, batas-batas budaya sulit dikenali. Agarterbentuknya insan yang berakhlak mulia, tentu saja ada suatu tuntutan bagaimana proses pendidikan yang dijalankan mampu mengantarkan manusiamenjadi pribadi yang utuh, baik secara jasmani maupun rohani. (SudarwanDanim, 2006: 65).Lebih dari itu, dunia pendidikan masih dihadapkan pada kerusakanyang tengah dialami bangsa Indonesia, yaitu permasalahan. ) dalam urusan pemerintahan sertakekuasaan, sehingga semakin merambah meliputi semua segi kehidupan bangsa (Nurcholish Madjid, 2004: 113). Bahkan pada era reformasi ini ditemui, untuk tidak mengatakan banyak, orang yang awalnya. 3sebaliknya malah dia sendiri yang melakukan KKN. Mereka adalah orangyang pernah mengenyam dunia pendidikan, yang rata-rata pernah duduk ditingkat pendidikan menengah lanjutan sampai perguruan tinggi, bahkantingkat doktoral. Terlepas dari semua itu, tetap bahwa pendidikanakhlak atau pendidikan humaniora harus dikedepankan. Globalisasi secara umum, sebagaimana diungkapkan Sztompka (2004:101-102), dapat diartikan sebagai proses yang menghasilkan dunia tunggal.Artinya, masyarakat di seluruh dunia menjadi saling tergantung pada semuaaspek kehidupan baik secara budaya, ekonomi, maupun politik, sehinggacakupan saling ketergantungan benar-benar mengglobal. Misalnya, dalam. ), perjanjian kerja samaekonomi regional serta dunia, pembagian kerja dunia, dan peningkatan perankerja sama multinasional (Piƶtr Sztompka, 2004: 102-103). Oleh karena itu, sejakdicanangkannya penandatanganan kesepakatan GATT (. oleh Bank Dunia, pertandaglobalisasi tengah berlangsung. (Mansour Fakih, 2002: 211).Sementara itu, globalisai di bidang budaya ditandai dengan kemajuanmenuju keseragaman. Dalam hal ini, media massa, terutama televisi,mengubah dunia menjadi sebua. h “dusun global”. Menurutnya, budaya globalditandai dengan adanya integrasi budaya lokal ke dalam suatu tatanan global. Globalisasi yang ditandai oleh perbedaan-perbedaan dalam . 6kehidupan telah mendorong pembentukan definisi baru tentang berbagai haldan memunculkan praktik kehidupan yang beragam. berarti orang tidak lagi makan makanan daridaerahnya, karena banyak makanan dan minuman disajikan secara sama diseluruh dunia. menandakan bahwa sekarang terdapatkota-kota tertentu yang menentukan perkembangan busana untuk seluruhdunia. Semacam ini dapat dilihat dalam majalah mode. yangdicetak dalam enam belas edisi internasional. ) yang merupakan stasiun televisi internasional melaporkanmode-mode baru dari New York, Tokyo, Milan, dan Paris. 17Demikian pula, menurut Ahmad Tafsir (2004: 155), pendidikan dalamrumah tangga sangatlah strategis dalam pembentukan akhlak dan kepribadian.Tujuan pendidikan dalam rumah tangga adalah agar anak mampu berkembangsecara maksimal, yang meliputi seluruh aspek perkembangan anak-anak, yaitusecara jasmani, akal, dan rohani. Tujuan lain ialah membantu sekolah ataulembaga kursus dalam mengembangkan pribadi anak didik. sebagaialternatif, yang tampaknya juga penting untuk membantu mengembangkan,khususnya, kematangan rohani. Globalisasi memang sudah tidak dapat ditolak kehadirannya.Globalisasi yang telah merambah kepada semua aspek kehidupan, baikekonomi, politik, maupun budaya menandakan bahwa orang yang hidup di eraini mau tidak mau harus mampu berkompetisi dalam segala bidang apabilatidak mau tertinggal jauh. Tentu saja, semacam ini merupakan bagian daritugas dunia pendidikan untuk menyiapkan bagaimana menciptakan SDM yangmemiliki kemampuan atau berkompetensi.Jika tujuan pendidikan adalah memiliki arti. mengikuti “arus globalisasi” dalam arti yang positif. globalisasi mengandung pula hal-hal yang negatif, maka lembaga pendidikandi samping juga masyarakat dan keluarga harus mampu membentengi generasi penerus terutama dari pengaruh budaya yang tidak sesuai dengan norma(agama) sebagai tolak ukur kepribadian atau budi pekerti.Yang perlu disadari, bahwa globalisasi sebenarnya paradoks dengandunia pendidikan atau gejala kontra moralitas. Misalnya, satu sisi pendidikharus mengajarkan bagaimana berpakaian yang sopan, santun, dan tidakmengganggu pandangan mata, akan tetapi di sisi lain perkembangan mode,atau gaya pakaian sudah tidak dapat dibendung lagi, bahkan baik media massamaupun elektronik sudah mengarah kepada kebebasan menayangkan gambar-. gambar “porno”. Demikian pula, misalnya, pendidik mengajarkan orang harus. berhemat, tetapi budaya konsumtif telah mempengaruhi sebagian besarmasyarakat. Pendidikan pastinya menghadapi tantangan besar di era globalisasi ini. Adapun tantanganya menurut khaerudin kurniawan (1999) yaitu :.
  • Tantangan untuk meningkatkan nilai tambah, yaitu bagaimana meningkatkan produktivitas kerja nasional serta pertumbuhan dan pemerataan ekonomi, sebagai upaya untuk memelihara pembangunan berkelanjutan.
  • Tantangan untuk melakukan riset secara komperensif terhadap terjadinya era reformasi dan transformasi-struktur masyarakat, dari masyarakat tradisional -- agraris, ke masyarakat modern -- industrial dan informasi-komunikasi ; serta bagaimana implikasinya bagi peningkatan dan pengembangan kualitas kehidupan SDM.
  • Tantangan dalam persaingan global yang semakin ketat, yaitu meningkatkan daya saing bangsa dalam menghasilkan karya karya kreatif yang berkualitas sebagai hasil pemikiran, penemuan, dan penugasan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni.
  • Tantangan terhadap munculnya invasi dan kolonialisme baru di bidang iptek, yang menggantikan invasi dan kolonialisme di bidang politik dan ekonomi.

 Orang tua perlu belajar teknologi informasi dan komunikasi di era globalisasi. Berkembanya teknologi informasi dan komunikasi (TIK) ibarat pisau bermata dua. Tujuan orang tua bekerja adalah untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Anak minta ponsel atau laptop biasaya akan langsung dituruti. Bila anak keasyikan bermedsos bisa menimbulkan anak kurang bisa berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya. Anak itu ibarat kertas yang masih putih dan bersih. Orang tua bisa menuliskan tulisan yang isinya berupa kebaikan atau keburukan. Jadi usahakan dalam bertutur kata di depan anak adalah dengan kata-kata yang baik-baik saja. Jangan sampai membentak ataupun memarahi anak-anak kita secara berlebihan. Biasanya anak-anak di rumah itu suka menonton televisi. Butuh pengawasan dan bimbingan dari orang tua ketika mereka melihat televisi. Sayang itu adalah ungkapan perasaan cinta. Kita didik anak-anak kita itu dengan rasa kasih dan sayang. Ilmu dunia itu memang penting untuk dipelajari sebagai bekal kita untuk hidup didunia. Karena kehidupan didunia ini juga menentukan kehidupan setelahnya yaitu di alam akhirat. Orang tua bisa memberikan pendidikan kepada anak dengan cara menyeimbangkan ilmu pengetahuan di dunia dan agama. Sehingga selain pintar pelajaran di sekolah anaknya juga tahu tentang ilmu-ilmu agama. Dengan mengetahui ilmu agama maka kepandaian anak-anak kita itu akan di gunakan untuk hal-hal yang berupa kebaikan saja. Mereka bisa memilih dan memilah mana yang harus di kerjakan dan mana yang harus ditinggalkan.
jadi pendidikan di era globalisasi harus sangat di awasi oleh orang tua karena dunia semaki bisa di akses dengan mudah, anak milenial sudah tidak asing  dengan hal yang berbau teknologi apa lagi dalam urusan pendidikan, kita sebagai orang tua harus bisa mengawasi anak kita dalam mengakses internet jangansampai mengkases yang berbau negatif, agar anak kita dapat pengetahuan yang sehat dan bermutu.

Keadaan semacam ini, tentu melahirkan nilai tersendiri dalam mata manusia, terlebih pada pandangan masyarakat. Terdapat berbagai nilai positif dan negatif dalam hal ini. Guru merupakan person inti dalam hal ini. Baik buruknya kualitas anak bangsa sangat bergantung pada baik buruknya kualitas guru itu sendiri. Sebuah pertanyaan yang muncul di benak kita adalah tentang bagaimana peran guru di era milenial ini? Pertanyaan itu dinilai cukup pantas untuk di tanyakan, terlebih bahwa guru itu adalah sektor kunci dalam suatu keberlangsungan pendidikan. Berikut ini akan dijelaskan poin mengenai peran guru di Era Milenial. Dengan demikian, para peserta didik itu akan senantiasa menceritakan kejadian yang dialaminya dalam kesehariannya kepada gurunya. Ini yang jarang sekali terlihat dalam lingkungan sekolah. Guru yang berkualitas, akan membuka peluang besar untuk melahirkan generasi yang berkualitas pula. Atas dasar prinsip ini diperlukan adanya perhatian khusus terhadap guru.  jadi guru tak hanya mengajar kan pelajaran tapi juga mengajarkan etika dan ideologi juga sebagai mentor anak karena guru juga harus mencari solusi untuk permasalahan yang di hadapi bersama